Senin, 06 Desember 2010

Wikileaks, Kebebasan Infomasi dan Media Sosial

Jakarta - Beberapa kasus bocoran dalam Wikileaks cuma kita anggap hiburan. Misalnya Kanselir Jerman Angela Markel disebut sebagai “teflon” kalangan petinggi Amerika Serikat karena tak ada satu pun yang bisa nyantel dalam dirinya. Lantas Presiden Iran Ahmadinejad dibilang lebih mirip Hitler.

Geger Wikileaks telah meletupkan kontroversi. Intinya, yang dirugikan merasa tak terima. Lantas muncul tudingan tentang konspirasi: mempermalukan lawan (dan bukan lawan) dengan memperdayai orang lain yang dengan senang hati menyebarkannya.

Kontroversi Wikileaks menggelembung karena peran media, terutama media sosial. Inilah era ketika informasi dipreteli, disebarkan, dimaknai, dipreteli lagi, dan disebarkan (pun dimaknai) lagi oleh banyak orang biasa (bukan jurnalis). Oleh orang-orang yang memiliki medianya sendiri. Oleh orang-orang yang tak bergantung kepada para editor.

Debat tentang hal itu akan terus berlangsung, dengan tiga pokok soal.


  • Pertama: apakah yang disebut sebagai kebebasan arus informasi?
  • Kedua: dalam batas apa, dan dalam soal apa, rakyat pembayar pajak boleh tahu rahasia pemerintahnya tanpa menunggu tibanya deklasifikasi dokumen?
  • Ketiga: dalam batas apa, dan dalam soal apa, masyarakat suatu negara boleh tahu rahasia korporat yang menjaring dana (saham) dari khalayak?

Dalam lingkup suatu negara saja sulit apalagi di luarnya. Kini batas geografis hanya garis di atas peta, bukan lagi penyekat informasi, padahal informasi kian tersebar karena media sosial. Maka hanya pemerintahan senewen, bingung, dan kurang pede, yang ingin memberangus informasi.

Jika menyangkut bisnis, maka mobilitas kapital menjadikan urusan sebuah korporat bukan lagi di ranah domestik. Apalagi jika korporat asing menyuap pejabat suatu negeri dan merusak lingkungan. Itu uruan semua orang, bukan hanya pemegang saham.

Di tengah diskusi itu bisa saja muncul respon yang mungkin lucu, naif, tapi bagi saya mendasar. Misalnya, “Kami senang dengan bocoran di negeri lain maupun perusahaan lain, dan menikmatinya. Tapi kami tidak suka kalau dibocorkan lantas jadi olok-olok.”

“Kami” itu bisa sebuah pemerintahan, bisa sebuah perusahaan. Pokoknya urusan pihak lain. Pokoknya boleh dirayakan. Lantas protes pihak lain –– “Napa sih sampe segitunya, kami kan nggak pernah mau tahu rahasia kalian?” –– akan kita anggap kekanak-kanakan.

Ah, biasa kata Anda. Di mana-mana orang kan mau menangnya sendiri, kata teman Anda. Apalagi sekarang zamannya kebebasan informasi, kata teman yang nimbrung.

Jika untuk hal yang tak secara langsung merugikan tapi kita secara berlebihan menikmatinya, lantas apa bedanya dengan kita menikmati dan menggandakan gosip beserta pasal cemar para pesohor, hanya saja kita tak rela jika urusan pribadi kita tersiar tanpa izin kita?

Mungkin kita bisa bilang urusannya berbeda. Jika menyangkut kebijakan publik tentang lingkungan maka tak boleh ada rahasia. Tapi jika menyangkut urusan ranjang orang –– bukan ranjang yang sedang dirakit di pabrik dengan bahan kayu hasil pembalakan liar –– maka itu boleh diabaikan.

Begitukah?

sumber detik.com

Facebook Ubah Tampilan Halaman Profil

Jakarta - Jejaring sosial populer Facebook kembali melakukan perubahan tampilan. Perubahan cukup besar terjadi pada halaman profil penggunanya.

Perubahan itu diumumkan di blog resmi Facebook, seperti dikutip detikINET, Senin (6/12/2010). Salah satu perubahan yang paling terlihat adalah bagian 'perkenalan' pada halaman profil.

Tepat di bawah nama, profil Facebook kini akan menampilkan sederet informasi seperti pekerjaan, pendidikan terakhir, status pernikahan dan lainnya. Kemudian, di bawah informasi perkenalan itu, ditampilkan deret foto-foto terbaru dari sang empunya profil.

Tombol Wall, Info, Photos dan lainnya kini digeser pada kolom sebelah kiri, di bawah foto profil. Sedangkan kolom kanan berisi Message, Poke, People You May Know dan deretan iklan.

Facebook menyediakan halaman untuk memperkenalkan profil baru ini. Kunjungi di http://www.facebook.com/about/profile/


sumber detik.com

Minggu, 05 Desember 2010

Tahun Depan Android Akan Jadi 'Raja'

CALIFORNIA - Semakin banyak saja perusahaan riset yang memprediksi bahwa Android bakal menjungkalkan sistem operasi yang sudah ada, seperti Symbian dan iOS, termasuk analisis dari IDC.

Memang saat ini ponsel Android menyumbang 23 persen dari total pengiriman di Eropa Barat pada kuartal ketiga, di belakang Nokia Symbian dan Iphone Apple. Namun analis IDC Francisco Jeronimo mengatakan bahwa ponsel Android akan segera menjungkal Symbian dan iPhone.

Dilansir The Inquirer, Jumat (3/12/2010), Jeronimo menambahkan bahwa Android sudah berada di posisi kedua Symbian di seluruh dunia.

"Pemimpin pasar dengan perangkat Android di Eropa Barat adalah HTC dengan 39 persen, diikuti oleh Sony Ericsson dengan 27 persen dan Samsung dengan 14 persen," kata Jeronimo.

"Samsung mendapatkan tempat yang cukup strategis setelah peluncuran dari Galaxy S di kuartal kedua," katanya.

Dia juga mengatakan bahwa iPhone yang menjadi perangkat panas tahun lalu. Ini hari itu adalah semacam perangkat 'tua'.

Galaxy S dipandang sebagai pesaing iPhone yang paling serius, pasalnya fungsi dan aplikasi pihak ketiga hampir sama dengan iPhone namun dengan harga yang lebih rendah.

Smartphone diharapkan akan naik menjadi 49 persen dari total pengiriman handset Eropa Barat pada tahun 2011, naik dari perkiraan 35 persen per tahun ini.

Call of Duty Akan Jadi Game Berbayar?

SAN FRANSISCO - Rumor tentang kemungkinan Activision akan memungut biaya di game Call of Duty (CoD) semakin kencang sejak pertengahan Juni 2010 silam.

Ketika itu, CEO Activision Blizzard, Bobby Kotick menyatakan bahwa di masa mendatang,
CoD akan dijadikan game online dan diwajibkan berlangganan. "Aku akan menjadikan Call of Duty game berlangganan," kata Kotick.

Namun, kini hal tersebut dibantah langsung oleh CEO Activision Publishing Eric Hirsberg. "Tak ada rencana kami untuk mengubah CoD seri online menjadi model berlangganan," kata Hirsberg seperti dilansir GameSpot, Jumat (25/11/2010).

"CoD akan selamanya free, bebas biaya," kata Hirsberg.

Hirsberg mengatakan, menghubungkan gamer dengan komunitas online untuk bermain Call of Duty mutlak adalah memberikan pengalaman, dan kita tidak akan mengenai biaya untuk itu.

"Kami tidak mencoba untuk menguangkan game tersebut," kata Hirsberg

Activision sendiri baru merilis Game Call of Duty terbaru, Black Ops. game inipun langsung menuai sukses, hanya dalam waktu sejam game tersebut menarik sekira satu juta pemain di Xbox Live.

Permainan tersebut diharapkan dapat dijual 13 juta hingga 15 juta unit di kuartal ini. Angka ini sedikit lebih rendah dari pendahulunya, Modern Warfare, yang dibuat oleh Infinity Ward studio.

CoD: Black Ops hadir dengan mengangkat cerita pasca Perang Dunia II. Selain bertempur di Vietnam, beberapa misi dalam game ini pun bakal membawa gamer ke belahan dunia seperti Kuba dan Amerika Utara. Berbeda dengan seri sebelumnya, Modern Warfare 2, dimana proses pengerjaannya dilakoni oleh Infinity Ward. Kini CoD7: Black Ops ditangani oleh Treyarch, sebuah pengembang game yang pernah membuat Quantum of Solace dan Call of Duty: World at War. (ugo)

Hybrid Cloud Computing Mulai Menarik Perhatian

Perusahaan yang ingin memasang Awan publik dan privat (hybrid cloud computing) diwakili oleh 38 persen responden, sementara 37 persen menyatakan hanya menginginkan Awan privat (private cloud computing). Pilihan terhadap Awan privat lebih jelas di sektor perbankan dan pemerintahan, sedangkan Awan publik masih mendapat penolakan.

Bahkan, di Jepang, negara paling positif terhadap Awan dalam survei ini, ternyata hanya 15 persen dari responden yang mau menggunakan Awan publik. Organisasi di Asia Tenggara lebih memilih Awan hibrida, dengan empat poin persentase lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik. Area storage (58 persen) menunjukkan beban kerja pertama bagi Awan privat. Jepang (62 persen) dan China (61 persen) menginginkan penerapan storage dalam Awan privat. Aplikasi enterprise berbasis Awan adalah kategori kedua di Asia Pasifik dengan 49 persen. Untuk rencana penerapan, sebanyak 93 persen responden menyatakan mereka akan menggunakan Awan untuk konferensi web, IM, kolaborasi dan e-mail.

"Industri memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap model Awan hibrida. Sangat penting bagi enterprise untuk mendapatkan platform infrastruktur, model manajemen bersama, dan layanan aplikasi yang menjembatani Awan privat dan publik sehingga mampu memberikan Awan yang saling beroperasi untuk portabilitas data dan aplikasi," kata SVP dan GM VMware Jepang dan Asia Pasifik, Andrew Dutton.

Mengenai hambatannya, dia mengatakan, integrasi dengan sistem yang sudah terpasang dan kekhawatiran keamanan menjadi ganjalan adopsi Awan. Ini dinyatakan oleh 46 persen responden. Di pasar berkembang, faktor kunci yang menghambat adopsi Awan adalah kurangnya pemahaman.

Hal ini ditegaskan 44 persen responden di China, 40 persen di Malaysia dan 40 persen di Thailand, dibandingkan dengan rata-rata regional 36 persen. Hasil-hasil ini mengindikasikan secara kuat bahwa solusi Awan berbasis standar dan edukasi tentang Awan sebagai faktor pendorong yang signifikan di Asia Pasifik. Hasil survei menyatakan, organisasi di Asia Pasifik (59 persen) secara konsisten menyatakan infrastruktur virtualisasi sebagai komponen pembangun utama dari komputasi Awan. Dutton pun menuturkan mengenai hubungan antara virtualisasi dan komputasi Awan.

"Virtualisasi memungkinkan organisasi memisahkan aplikasi bisnis dan informasi kritikal dengan peranti keras fisik. Hal ini menjadi cara yang efektif dan cepat menuju Awan," ucapnya.

Adopsi virtualisasi di Asia Pasifik tertinggi Australia (87 persen) dan Jepang (82 persen). Berdasarkan sektor, adopsi virtualisasi terbanyak di asuransi (82 persen) dan layanan perbankan keuangan (76 persen). Thailand (67 persen) dan Singapura (65 persen) menyusul di belakang Australia dan Jepang. Penetrasi virtualisasi di Asia Tenggara mencapai 30 persen.
Dikatakan, sebagian besar perusahaan Asia Pasifik menggunakan virtualisasi untuk server dan data center. Banyak di antaranya fokus memberdayakan virtualisasi untuk meningkatkan kemampuan pemulihan bencana dan kesinambungan bisnis.Peluang pertumbuhan terbesar bagi virtualisasi di Asia Pasifik adalah di area komputasi personal, walaupun banyak organisasi memasukkan virtualisasi desktopsebagai prioritas rendah.

Kendati begitu,banyak manfaat yang bisa diperoleh dari virtualisasi desktop. Contohnya, fleksibilitas dalam penghantaran aplikasi dan data kepada pengguna akhir, tanpa bergantung pada jenis peranti akses.

"Dengan menyediakan kemampuan swalayan berskala besar bagi para pengguna akhir, virtualisasi desktop adalah bagian terakhir untuk membuat perusahaan yang fleksibel, berskalabilitas tinggi dan tanggap terhadap kebutuhan bisnis," tutur Dutton. (Koran SI/ M Iqbal) (srn)

Netbook Berbasis Chrome OS Mendarat 7 Desember

CALIFORNIA - Teka-teki mengenai kepastian netbook berbasis sistem operasi Chrome sedikit mulai terkuak. Pasalnya, Google kabarnya akan meluncurkan netbook Chrome OS pertama akan meluncur pada tanggal 7 Desember 2010 ini.

Namun demikian , menurut Engadget, yang dilansir Minggu (5/12/2010), netbook ini belum dijadwalkan untuk kapan akan dilepas untuk pasar massal. Karena dari 65.000 unit netbook yang tersedia, disediakan untuk kalangan intenal Google saja.

Selain itu, OS yang mengandalkan komputasi awan sebagai penggerak utamanya ini, tampaknya masih dalam "beta, non-consumer-friendly" di beberapa negara.

Sementara itu, pengamat dari InfoWorld Woody Leonhard mencatat bahwa Google Chrome OS, jelas bertujuan untuk perusahaan bisa bertenaga dengan sistem operasi yang jauh bertenaga dengan mengandalkan cloud computing.

"Google's VP for Chrome Engineering, Linus Upson,mengklaim 60 persen dari Chrome OS bisa menggantikan mereka OS Windows," jelas Leonhard.

Fitur Proyektor Bikin iPhone 5 Menarik

CALIFORNIA - Memang Apple masih cukup lama dalam mengerjakan proyek iPhone 5 mereka, sebagai generasi terbaru dari smartphone-nya. Namun, para analisis mencoba meraba fitur apa yang menarik untuk iPhone 5 ini.

Salah satunya, menurut analisis Ticonderoga Securities, Brian White, mengatakan teknologi proyektor pico menjadi calon fitur dan teknologi yang paling menarik untuk disematkan di iPhone 5. Selain itu, dengan fitur layanan TV lokal di smartphone, mampu membuat pengguna menonton televisi dimana saja mereka inginkan.

White percaya TV digital mobile dan miniatur proyektor pico yang tertanam yang siap ditanamkan di smartphone akan menjadi nilai jual perangkat ini di masa depan.

Menurut White, fitur tersebut kemungkinan akan menjadi "calon menarik" untuk iPhone 5, yang diproyeksikan untuk dimulai digarap pada bulan Juni 2011.

"Menonton stasiun TV lokal pada smartphone bisa menjadi pilihan menarik bagi beberapa konsumen," tulis White di AppleInsider, yang okezone kutip, Minggu (5/12/2010).

"Selain itu, sebuah proyektor pico tertanam memungkinkan pengguna untuk mempresentasikan slide atau video di dinding atau permukaan lainnya dalam ukuran besar," tambahnya.

Dia menambahkan bahwa fitur tersebut juga bisa akan muncul di masa depan untuk pembaruan perangkat iPad yang sangat populer, yang akan memberikan "pengalaman lebih kaya" bagi pengguna.

Ancelotti Segera Ubah Metode Latihan

LONDON - Hasil mengecewakan kembali diraih Chelsea kala ditahan Everton di hadapan publik Stamford Bridge, Sabtu malam. Carlo Ancelotti pun mulai berpikiran untuk mengubah metode latihan skuad London Barat.

Skor akhir 1-1 atas Everton bukan saja memaksa Chelsea turun peringkat ke posisi tiga. Ini merupakan kali keempat The Blues gagal meraih poin penuh di pentas Premier League. Terakhir kali Chelsea mengemas tiga angka adalah ketika menang tipis 1-0 atas Fulham, 11 November lalu.

Sempat unggul melalui penalti Didier Drogba di babak pertama, Chelsea akhirnya harus puas berbagi angka setelah Jermaine Beckford menyamakan kedudukan, empat menit jelang full time.

Menyikapi hal ini, Don Carletto meyakini, cara terbaik membangkitkan performa anak-anak asuhnya adalah dengan mengubah metode latihan.

"Mungkin kami harus mengubah sesuatu dalam kebiasaan kami di tempat latihan. Kami harus segera memperbaiki diri," tegas Ancelotti kepada Sky Sports, Minggu (5/12/2010).

"Kini, kami tidak memiliki alasan untuk bisa tersenyum. Jika kami ingin segera berubah, kami harus bekerja keras. Saya yakin, kami pasti mengalami masa sulit, tapi tidak selama ini. Apa yang kami alami ini sudah terlalu lama," keluh mantan arsitek AC Milan.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More